Bagi Kh. Abdul Somad, seruan kepada manusia untuk mengikuti jalan Allah SWT merupakan tugas yang tidak pernah berhenti dan dakwah Islamiyah tesebut akan berkelanjutan kapan dan dimana saja. Islam sebagai agama rahmatal lil’alamin senantiasa mengajak umat manusia agar tunduk dan patuh dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa apa yang dilarangNya. Misi dakwah tesebut tidak hanya sebatas menjelaskan ajaran agama, namun melengkapi penjelasan tentang kebaikan dan kesejahteraan hidup secara universal ( Tuan Guru H. Dawud, wawancara, 2024). Umat Islam di Tengah Tengah kehidupan manusia dan masyarakatnya dalam rangka menegakkan amanat Allah, mempunyai kedudukan yang penting serta tanggung jawab yang benar dan berat, sebab harus menjadi khoira ummat (sebaik baiknya ummat) di Tengah umat manusia yang lainnya, dan harus berperan secara aktif menjadi factor dinaisator dalam usaha perbaikan dan Pembangunan masyarakatnya.(Farid Ma’ruf Noor, 1981 : 4). Maka untuk memperoleh kebaikan dan kesejahteraan, maka manusia dituntut beriman kepada Allah SWT.
Tentu proses dan tahapan yang harus dilalui oleh manusia sebelum mereka menemukan serta menumbuhkan keyakinannya dengan sempurna, maka mereka dikehendaki memperlejari rukun Iman yang enam ( 6 ), yaitu :
- Beriman kepada Allah
- Beriman kepada kepada Malaikat
- Beriman kepada Kitab Kitab Allah
- Beriman kepada Rasul Rasul Allah
- Beriman kepada hari Akhir (Kiamat), dan
- Beriman kepada Qada dan Qadar.
Masing masing urutan rukun iman tersebut, dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh murid murid dan jamaah yang mengaji dengan Kh. Abdul Somad, ia menguraikan bahwa rukun iman tersebut merupakan asas utama untuk menumbuhkan dalam tubuh yang membersamai ruh agar tidak keliru dalam memahami serta mengetahui tempat menyembah dan yang akan disembah. Iman juga menjadi landasan bagi seseorang untuk mengerjakan segala kebaikan, apapun bentuk kebaikan dan amalan yang dilakukan oleh seseorang tanpa keimanan pada yang Maha Kuasa, tentu kebaikan amalan dan kebaikan tersebut menjadi sia sia.(Aulia Rahman, wawancara, 2024).
Seiring dengan penjelasan dan uraian Kh. Abdul Somad, dalam bukunya, AbuJamin Roham menjelaskan bahwa pengalaman Sejarah memberikan kenyataan, Dimana mempelajari iman dan seperangkat rukun rukunnya tidaklah begitu sulit, termasuk mengerjakannya dalam kehidupan. Tetapi yang lebih sulit, ialah menjadikan iman sebagai milik atau sahabat yang telah tampil dalam segala sikap hidup, baik dalam suka maupun ketika duka.(1991 : 209). Dalam mengimani, baik secara lisan ikrar hati maupun pengalaman dengan perbuatan, maka rukun rukun iman yang 6 tidak boleh digeser walau agak serambutpun. Sekali mengingkari salah satu apalagi semuanya, berarti ia keluar dari rel iman.(Abujamin Roham, 1991 : 210)
Kemudian berangkat dari keimanan, manusia dididik untuk patuh dan tunduk kepada Allah SWT, ketundukan itu dituntun dengan mengenal dan memahami rukun Islam yang lima ( 5 ), yaitu :
- Mengucapkan dua kalimat syahadat,
- Menegakkan shalat 5 waktu sehari semalam,
- Membayar zakat,
- Puasa di bulan Ramadhan, dan
- Menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah.
Bila pemahamannya tentang Islam melalui rukun yang telah disebutkan dalam hadis Rasulullah saw yang lima itu sudah hadir dalam dirinya, lalu kemudian keyakinan tumbuh menyinari jalan hidupnya, dengan konsisten mengamalkan ajaran Islam kapan dan dimanapun, inilah sosok insan yang menjadi kesukaan serta yang selalu mendapatkan cinta dari sang Khaliknya, yakni Allah SWT.




Reviews
There are no reviews yet.